Bimtek SAP 2026: Penyajian Laporan Keuangan Daerah agar Siap Audit dan Bebas Temuan

Bimtek SAP 2026: Penyajian Laporan Keuangan Daerah agar Siap Audit dan Bebas Temuan

Daftar Isi

Bimtek SAP 2026: Penyajian Laporan Keuangan Daerah agar Siap Audit dan Bebas Temuan
Bimtek SAP 2026: Penyajian Laporan Keuangan Daerah agar Siap Audit dan Bebas Temuan

Banyak pemerintah daerah masih menghadapi masalah klasik dalam penyajian laporan keuangan: data aset tidak sinkron dengan SIMDA atau SIPD, jurnal koreksi menumpuk menjelang tutup buku, rekonsiliasi antar bidang terlambat, serta temuan berulang dari BPK terkait penyajian akun belanja, persediaan, aset tetap, dan kewajiban daerah. Masalah ini bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi berdampak langsung pada opini audit, nilai SAKIP, efektivitas pengendalian internal, hingga tingkat kepercayaan publik terhadap tata kelola keuangan daerah.

Dalam banyak kasus, laporan keuangan OPD disusun hanya untuk memenuhi kewajiban formal tahunan, bukan sebagai instrumen akuntabilitas dan pengambilan keputusan. Akibatnya, proses penyusunan LKPD menjadi reaktif, penuh koreksi, bergantung pada individu tertentu, dan rentan terhadap kesalahan klasifikasi akun maupun ketidaksesuaian standar SAP berbasis akrual.

Bimtek SAP 2026: Penyajian Laporan Keuangan Daerah agar Siap Audit dan Bebas Temuan dirancang untuk membantu pemerintah daerah memperkuat sistem penyajian laporan keuangan berbasis Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), meningkatkan kualitas rekonsiliasi dan validasi data keuangan, serta membangun mekanisme kontrol internal yang mampu menurunkan risiko temuan audit secara signifikan.

Tekanan Nyata Pemerintah Daerah dalam Penyusunan Laporan Keuangan

Menjelang pemeriksaan BPK, sebagian besar OPD menghadapi tekanan tinggi akibat ketidaksiapan dokumen pendukung, perbedaan saldo antar sistem, hingga koreksi jurnal dalam jumlah besar yang dilakukan mendadak. Kondisi ini sering ditemukan pada perangkat daerah yang belum memiliki workflow pengendalian laporan keuangan yang kuat.

Beberapa bottleneck paling umum yang terjadi di pemerintah daerah antara lain:

  • Rekonsiliasi bendahara pengeluaran dan PPK-SKPD tidak berjalan rutin.
  • Data aset dari bidang aset tidak sinkron dengan laporan keuangan.
  • Penyajian belanja modal dan belanja barang sering salah klasifikasi.
  • Dokumen pertanggungjawaban belum terdigitalisasi dengan baik.
  • Koreksi jurnal akrual dilakukan menjelang audit.
  • Saldo persediaan tidak sesuai hasil stock opname.
  • Pengendalian internal atas belanja hibah dan bantuan sosial lemah.
  • Belum ada dashboard monitoring kesiapan audit OPD.
  • Ketergantungan terhadap operator tertentu sangat tinggi.
  • Koordinasi antara bidang keuangan, perencanaan, dan aset masih sektoral.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka risiko yang muncul bukan hanya temuan audit administratif, tetapi juga penurunan kualitas LKPD, opini audit yang terganggu, penilaian reformasi birokrasi yang stagnan, hingga meningkatnya risiko pemeriksaan lanjutan oleh aparat pengawasan internal maupun eksternal.

Domain Pelatihan dan Konteks Strategis Instansi

Pelatihan ini berada pada domain keuangan pemerintah daerah dengan fokus utama pada implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), penguatan sistem akuntabilitas keuangan daerah, serta peningkatan kesiapan audit berbasis pengendalian internal dan rekonsiliasi data.

Pelatihan sangat relevan untuk:

  • BPKAD / Badan Keuangan Daerah
  • Inspektorat Daerah
  • Bappeda
  • BKPSDM
  • Dinas Kesehatan
  • Dinas Pendidikan
  • RSUD
  • Sekretariat Daerah
  • Seluruh OPD pengelola anggaran dan aset

Level peserta yang menjadi sasaran meliputi:

  • Staff pengelola keuangan OPD
  • Bendahara pengeluaran dan penerimaan
  • Analis laporan keuangan daerah
  • PPK-SKPD
  • Pejabat penatausahaan keuangan
  • Kasubbag keuangan
  • Auditor internal Inspektorat
  • Kepala bidang akuntansi
  • Pimpinan OPD terkait tata kelola keuangan

Mengapa Banyak Temuan Audit Terjadi Berulang?

Dalam praktik pemerintahan daerah, temuan audit sering kali bukan disebabkan tidak adanya regulasi, melainkan lemahnya implementasi sistem kerja keuangan. Banyak OPD sudah memiliki SOP, tetapi SOP tersebut tidak berjalan karena proses kerja masih manual, pengawasan tidak real-time, dan validasi data dilakukan di akhir periode.

Kondisi yang sering ditemukan di lapangan antara lain:

  • Penginputan transaksi tidak berbasis kontrol akun.
  • Tidak ada early warning terhadap selisih saldo.
  • Dokumen SPJ tidak tervalidasi sejak awal.
  • Monitoring realisasi anggaran belum terintegrasi dengan laporan akuntansi.
  • Review laporan keuangan internal hanya formalitas.
  • Tim penyusun LKPD bekerja mendekati deadline audit.
  • Pengendalian aset daerah belum terkoneksi dengan pencatatan akuntansi.

Akibatnya, laporan keuangan yang dihasilkan tidak mencerminkan kondisi keuangan sebenarnya dan berpotensi menimbulkan koreksi material saat audit berlangsung.

Dampak Langsung terhadap KPI Pemerintah Daerah

Kualitas laporan keuangan memiliki keterkaitan langsung dengan:

  • Nilai SAKIP pemerintah daerah.
  • Evaluasi reformasi birokrasi.
  • Kinerja pengelolaan keuangan daerah.
  • Tingkat maturitas SPIP.
  • Kualitas tata kelola pemerintahan.
  • Tingkat kepercayaan publik.
  • Efektivitas pengambilan keputusan anggaran.

Ketika laporan keuangan tidak akurat dan tidak siap audit, maka efek domino yang terjadi meliputi:

  • Kinerja OPD dinilai tidak akuntabel.
  • Proses evaluasi program terganggu.
  • Perencanaan anggaran berikutnya menjadi tidak presisi.
  • Pengendalian belanja menjadi lemah.
  • Risiko penyimpangan meningkat.
  • Pimpinan daerah menghadapi tekanan politik dan administratif.

Sebaliknya, ketika sistem penyajian laporan keuangan berjalan baik, pemerintah daerah dapat mempercepat proses audit, mengurangi koreksi, meningkatkan efisiensi pelaporan, dan memperkuat akuntabilitas publik secara nyata.

System Transformation Flow: Dari Pelaporan Reaktif Menjadi Sistem Akuntabilitas Proaktif

Kondisi Sebelum Pelatihan

  • Rekonsiliasi dilakukan menjelang audit.
  • Data keuangan tidak sinkron antar unit.
  • Koreksi jurnal menumpuk.
  • Temuan audit terjadi berulang.
  • Monitoring laporan tidak real-time.
  • Pengendalian internal lemah.

Intervensi Melalui Pelatihan

  • Mapping bottleneck penyajian laporan keuangan.
  • Perbaikan workflow rekonsiliasi.
  • Penguatan kontrol akun dan validasi transaksi.
  • Integrasi proses akuntansi dengan pengelolaan aset.
  • Penerapan dashboard monitoring kesiapan audit.
  • Penyusunan SOP pengendalian laporan keuangan.

Kondisi Setelah Implementasi

  • Proses penyusunan laporan lebih cepat.
  • Kesalahan klasifikasi akun menurun.
  • Rekonsiliasi berjalan rutin.
  • Kesiapan audit meningkat.
  • Temuan audit dapat ditekan.
  • Kualitas akuntabilitas keuangan meningkat.

Sasaran Peserta Pelatihan

Pelatihan ini dirancang khusus bagi ASN dan unit kerja yang terlibat langsung dalam siklus pengelolaan keuangan daerah dan penyusunan laporan keuangan berbasis SAP.

  • Staff keuangan OPD yang melakukan pencatatan transaksi dan penyusunan laporan.
  • PPK-SKPD yang bertanggung jawab atas validitas administrasi keuangan.
  • Bendahara pengeluaran yang mengelola realisasi anggaran dan SPJ.
  • Analis keuangan daerah yang melakukan rekonsiliasi dan review laporan.
  • Bidang akuntansi BPKAD yang menyusun laporan konsolidasi pemerintah daerah.
  • Inspektorat yang melakukan review dan pengawasan internal.
  • Pengelola aset daerah yang terlibat dalam sinkronisasi data aset dan akuntansi.
  • Pimpinan OPD yang membutuhkan sistem monitoring kesiapan audit dan pengendalian kinerja keuangan.

Tujuan Pelatihan

Pelatihan ini dirancang untuk membantu instansi meningkatkan kualitas penyajian laporan keuangan daerah melalui penguatan sistem akuntansi pemerintah, integrasi proses pengendalian internal, serta implementasi workflow rekonsiliasi yang terukur sehingga berdampak pada peningkatan KPI layanan publik, kinerja OPD, dan reformasi birokrasi.

  • Meningkatkan kesiapan audit laporan keuangan pemerintah daerah.
  • Mengurangi risiko temuan audit berulang pada aspek penyajian laporan keuangan.
  • Memperkuat implementasi SAP berbasis akrual secara operasional.
  • Membangun sistem rekonsiliasi dan validasi data keuangan yang lebih efektif.
  • Meningkatkan kualitas pengendalian internal pengelolaan keuangan daerah.
  • Mendorong efisiensi proses penyusunan laporan keuangan OPD dan LKPD.
  • Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi tata kelola keuangan daerah.

Kurikulum Pelatihan SAP 2026

Module 1 — Diagnosis Masalah Penyajian Laporan Keuangan Daerah

  • Identifikasi bottleneck proses penyusunan laporan keuangan OPD.
  • Audit gap terhadap implementasi SAP berbasis akrual.
  • Analisis penyebab utama temuan audit berulang.
  • Mapping alur rekonsiliasi antar unit kerja.
  • Identifikasi titik rawan kesalahan klasifikasi akun.
  • Review efektivitas pengendalian internal.

Module 2 — Reformasi Sistem Kerja Penyusunan Laporan Keuangan

  • Redesign workflow penyusunan laporan keuangan daerah.
  • Penyusunan SOP rekonsiliasi rutin.
  • Integrasi data keuangan, aset, dan realisasi anggaran.
  • Peningkatan validasi transaksi berbasis kontrol akun.
  • Strategi percepatan closing laporan keuangan.
  • Penguatan koordinasi lintas bidang dan OPD.

Module 3 — Implementasi SAP Berbasis Praktik OPD

  • Penyajian laporan realisasi anggaran.
  • Penyusunan neraca pemerintah daerah.
  • Penyajian laporan operasional.
  • Penyusunan laporan perubahan ekuitas.
  • Penyajian laporan arus kas.
  • Teknik penyusunan CaLK yang audit-ready.
  • Simulasi jurnal akrual dan koreksi akun.

Module 4 — KPI & Internal Control Improvement

  • Penyusunan dashboard monitoring kesiapan audit.
  • Monitoring real-time progres rekonsiliasi.
  • Penerapan early warning system terhadap selisih data.
  • Penguatan review internal sebelum audit eksternal.
  • Pengukuran KPI pengelolaan keuangan OPD.
  • Integrasi pengendalian internal dengan sistem pelaporan.
Baca Juga:  Pelatihan Penyusunan Dokumen Pemanfaatan Aset Daerah 2026, Strategi Efektif dan Profesional

Module 5 — Implementasi dan Continuous Improvement

  • Penyusunan action plan perbaikan laporan keuangan.
  • Evaluasi berkala kualitas penyajian laporan.
  • Strategi sustain improvement pengendalian keuangan.
  • Roadmap kesiapan audit tahunan.
  • Simulasi review laporan keuangan berbasis kasus nyata OPD.

Metode Pembelajaran

Pelatihan dilaksanakan berbasis praktik langsung (applied government learning) dengan pendekatan implementatif sesuai kondisi nyata pemerintah daerah.

  • Simulasi kasus temuan audit OPD.
  • Workshop rekonsiliasi laporan keuangan.
  • Real-case workshop penyajian laporan SAP.
  • System simulation penyusunan laporan audit-ready.
  • Problem-based learning berbasis kasus pemeriksaan BPK.
  • Praktik penyusunan dashboard monitoring keuangan.
  • Latihan penyusunan SOP pengendalian laporan keuangan.

Implementation Scenario 1 — Dinas Kesehatan

Sebelum Implementasi

  • Belanja BLUD tidak sinkron dengan laporan akuntansi.
  • Persediaan obat tidak sesuai stok fisik.
  • Jurnal penyesuaian dilakukan mendadak saat audit.
  • Review internal tidak berjalan efektif.

Setelah Implementasi Pelatihan

  • Rekonsiliasi persediaan dilakukan bulanan.
  • Dashboard monitoring belanja BLUD diterapkan.
  • Kontrol validasi akun berjalan otomatis.
  • Koreksi jurnal menurun signifikan.
  • Kesiapan audit meningkat lebih cepat.

Implementation Scenario 2 — BPKAD Pemerintah Daerah

Sebelum Implementasi

  • Konsolidasi laporan OPD terlambat.
  • Data aset tidak sinkron dengan neraca.
  • Temuan audit terkait aset tetap berulang.
  • Koordinasi antar OPD tidak efektif.

Setelah Implementasi Pelatihan

  • Workflow rekonsiliasi lintas OPD berjalan rutin.
  • Sinkronisasi data aset dan akuntansi meningkat.
  • Dashboard kesiapan audit tersedia real-time.
  • Temuan audit terkait penyajian aset menurun.
  • Proses penyusunan LKPD menjadi lebih efisien.

Output Hasil Pelatihan

  • SOP penyusunan laporan keuangan daerah.
  • Template rekonsiliasi akun dan saldo.
  • Dashboard monitoring kesiapan audit.
  • Action plan perbaikan pengendalian internal.
  • Checklist kesiapan audit OPD.
  • Template review internal laporan keuangan.
  • Format monitoring tindak lanjut temuan audit.
  • Strategi integrasi data aset dan laporan keuangan.

Deliverables Peserta

  • Template SOP audit-ready.
  • KPI tools pengelolaan keuangan OPD.
  • Checklist pengendalian internal.
  • Template evaluasi kesiapan audit.
  • Format dashboard monitoring.
  • Contoh implementasi rekonsiliasi berkala.
  • Template action plan perbaikan sistem.

ROI dan Dampak Implementasi

Before → After

  • Rekonsiliasi manual → rekonsiliasi terjadwal dan terukur.
  • Koreksi jurnal massal → validasi transaksi sejak awal.
  • Monitoring pasif → dashboard monitoring real-time.
  • Temuan audit berulang → pengendalian internal preventif.
  • Penyusunan laporan lambat → closing laporan lebih cepat.
  • Koordinasi sektoral → workflow lintas OPD terintegrasi.

Input → Process → Output → Outcome

  • Input: data transaksi, aset, realisasi anggaran, dokumen SPJ.
  • Process: rekonsiliasi, validasi akun, review internal, monitoring.
  • Output: laporan keuangan audit-ready dan terdokumentasi.
  • Outcome: peningkatan akuntabilitas, efisiensi, dan kualitas tata kelola keuangan daerah.

Risk & Failure Analysis

Jika pemerintah daerah tidak melakukan penguatan sistem penyajian laporan keuangan, maka risiko yang akan terus muncul antara lain:

  • Temuan audit berulang setiap tahun.
  • Penurunan kualitas opini audit.
  • Keterlambatan penyampaian laporan keuangan.
  • Kinerja pengelolaan keuangan dianggap tidak akuntabel.
  • Risiko pemeriksaan lanjutan meningkat.
  • Evaluasi reformasi birokrasi stagnan.
  • Nilai SAKIP dan SPIP terdampak.
  • Kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintah menurun.

Dalam jangka panjang, lemahnya sistem penyajian laporan keuangan akan menghambat pengambilan keputusan strategis daerah karena data fiskal yang digunakan tidak lagi akurat dan reliabel.

FAQ Pelatihan SAP 2026

1. Apa manfaat utama pelatihan ini bagi pemerintah daerah?

Pelatihan membantu pemerintah daerah memperkuat kesiapan audit, mengurangi temuan BPK, mempercepat proses penyusunan laporan keuangan, serta meningkatkan kualitas tata kelola dan akuntabilitas keuangan daerah.

2. Apakah pelatihan ini fokus pada teori SAP saja?

Tidak. Pelatihan fokus pada implementasi nyata di OPD, termasuk simulasi rekonsiliasi, perbaikan workflow, penyusunan dashboard monitoring, serta penyelesaian kasus audit yang sering terjadi di pemerintah daerah.

3. Bagaimana dampaknya terhadap KPI OPD?

Pelatihan berdampak pada peningkatan kualitas pengelolaan keuangan, penguatan pengendalian internal, efisiensi proses pelaporan, dan mendukung peningkatan nilai SAKIP, SPIP, serta reformasi birokrasi.

4. Apakah pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi OPD?

Ya. Materi, studi kasus, simulasi, dan implementasi dapat disesuaikan dengan karakteristik instansi, termasuk OPD layanan, BLUD, maupun perangkat daerah pengelola anggaran besar.

5. Berapa lama implementasi hasil pelatihan dapat dilakukan?

Sebagian besar perbaikan workflow dan pengendalian internal dapat mulai diterapkan segera setelah pelatihan, sedangkan transformasi sistem monitoring dan integrasi data biasanya dilakukan bertahap sesuai kesiapan instansi.

6. Apakah pelatihan mencakup strategi menghadapi audit BPK?

Ya. Peserta akan mempelajari strategi kesiapan audit, review internal, validasi data, serta teknik mengurangi risiko temuan audit berbasis kasus nyata pemerintah daerah.

7. Apa yang membedakan pelatihan ini dengan bimtek biasa?

Pelatihan tidak berhenti pada pemahaman regulasi, tetapi fokus pada transformasi sistem kerja keuangan daerah, penguatan workflow operasional, serta implementasi kontrol internal yang berdampak langsung pada kesiapan audit dan KPI instansi.

8. Apakah peserta membutuhkan data atau dokumen tertentu?

Disarankan peserta membawa contoh laporan keuangan, workflow rekonsiliasi, atau contoh temuan audit internal agar simulasi implementasi dapat lebih kontekstual dan langsung relevan dengan kondisi OPD.

Delivery Format Pelatihan

  • Pelatihan In-House Pemerintah Daerah
  • Pelatihan Online Interaktif
  • Pelatihan Hybrid
  • Custom Program sesuai kebutuhan OPD
  • Workshop pendampingan implementasi
  • Executive session untuk pimpinan daerah

Kesimpulan

Transformasi kualitas laporan keuangan daerah tidak dapat dicapai hanya dengan menambah beban administrasi atau melakukan koreksi menjelang audit. Pemerintah daerah membutuhkan perubahan sistem kerja yang mampu memastikan setiap transaksi, rekonsiliasi, dan penyajian laporan berjalan terkontrol sejak awal proses.

Melalui Bimtek SAP 2026: Penyajian Laporan Keuangan Daerah agar Siap Audit dan Bebas Temuan, instansi akan memperoleh pendekatan implementatif untuk memperkuat akuntabilitas keuangan, mempercepat kesiapan audit, menurunkan risiko temuan, dan meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan secara menyeluruh.

Bagi pimpinan daerah, kualitas laporan keuangan bukan sekadar dokumen administratif, tetapi representasi langsung dari integritas tata kelola, efektivitas pengendalian internal, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik.

Jika instansi tidak melakukan optimalisasi ini, maka risiko stagnasi kinerja, meningkatnya tekanan audit, lemahnya akuntabilitas, dan turunnya kualitas evaluasi reformasi birokrasi akan terus berulang dari tahun ke tahun.

Closing Context

Pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah daerah, baik untuk peningkatan kapasitas SDM, penguatan sistem pengendalian internal, maupun percepatan kesiapan audit laporan keuangan daerah.

Skema kerja sama fleksibel untuk seluruh OPD, pemerintah kabupaten/kota, provinsi, BLUD, maupun instansi yang membutuhkan penguatan tata kelola keuangan berbasis SAP dan audit readiness system.

Request Proposal

Ajukan kebutuhan pelatihan dan konsultasi implementasi SAP berbasis kondisi riil OPD untuk mendapatkan program yang sesuai dengan target kinerja, kesiapan audit, dan penguatan akuntabilitas keuangan daerah.

Jadwal Pelatihan

Tersedia pilihan jadwal reguler maupun custom in-house training yang dapat disesuaikan dengan agenda penyusunan laporan keuangan, evaluasi kinerja, maupun persiapan audit pemerintah daerah.

Konsultasi OPD

Diskusikan permasalahan penyajian laporan keuangan, rekonsiliasi data, pengendalian internal, maupun strategi mengurangi temuan audit bersama tim pelatihan untuk mendapatkan solusi implementatif sesuai kebutuhan instansi.

Pelatihan Terkait

Bimtek SAP 2026: Standar Akuntansi Pemerintahan untuk Pengelolaan Keuangan Daerah yang Akuntabel

Daftar Kota Pelaksanaan

Pelatihan ini dapat diselenggarakan secara nasional untuk mendukung kebutuhan peningkatan kapasitas organisasi, baik instansi pemerintah maupun perusahaan swasta, dengan fleksibilitas pelaksanaan sesuai kebutuhan operasional.

  • Jakarta
  • Bandung
  • Surabaya
  • Semarang
  • Yogyakarta
  • Medan
  • Makassar
  • Denpasar
  • Palembang
  • Balikpapan
  • Manado
  • Pekanbaru

Pelaksanaan dapat disesuaikan dalam berbagai skema, mulai dari in-house training di lokasi perusahaan atau instansi, pelaksanaan publik di kota tertentu, hingga program regional yang melibatkan beberapa unit kerja atau organisasi dalam satu wilayah. Penyesuaian dilakukan berdasarkan jumlah peserta, kompleksitas materi, serta kebutuhan implementasi di masing-masing organisasi.

Semoga program ini dapat menjadi bagian dari langkah nyata dalam membangun aparatur yang unggul, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan tata kelola kelembagaan di masa depan.

Picture of Ditulis oleh admin Eitena Group

Ditulis oleh admin Eitena Group

Eitena Group adalah Pusat pelatihan yang yang bergerak dibidang riset, pengkajian bimbingan teknis, diklat, workshop, sertifikasi, pelatihan dan pendidikan non formal. Eitena didirikan sebagai pengembangan sumber daya manusia (SDM) terutama dibidang pendidikan. Baik bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta & mahasiswa.

Tempat Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan

Jakarta, Bandung, Bogor Surabaya, Malang, Yogyakarta, Bali, Lombok, Medan, Palembang, Riau, Banda Aceh, Padang Pekanbaru, Manado, Makasar, Gorontalo,  Samarinda, Banjarmasin, Jayapura, Sorong dan lain sebagainya 

TANPA PENGINAPAN

Rp. 4.000.000

Mengikuti kelas tatap muka selama 2 hari. Modul materi, softcopy materi & Flashdisk 16GB. Bimtek kit, Tas eksklusif & Souvenir. Sertifikat pelatihan. Makan siang selama kegiatan berlangsung. Coffebreak sebanyak 2 kali selama kegiatan berlangsung. Antar jemput bandara bagi peserta group minimal 5 orang.

DENGAN PENGINAPAN(Twin Sharing)

Rp. 4.750.000

Mengikuti kelas tatap muka selama 2 hari. Modul materi, softcopy materi & Flashdisk 16GB. Bimtek kit, Tas eksklusif & Souvenir. Sertifikat pelatihan. Menginap 1 kamar untuk 2 orang, selama 4 hari 3 malam. Sarapan pagi, Makan siang dan Makan malam untuk 2 orang selama kegiatan berlangsung. Coffebreak sebanyak 2 kali selama kegiatan berlangsung. Antar jemput bandara bagi peserta group minimal 5 orang.

DENGAN PENGINAPAN(Suite Room)

Rp. 5.750.000

Mengikuti kelas tatap muka selama 2 hari. Modul materi, softcopy materi & Flashdisk 16GB. Bimtek kit, Tas eksklusif & Souvenir. Sertifikat pelatihan. Menginap 1 kamar untuk 1 orang, selama 4 hari 3 malam. Sarapan pagi, Makan siang dan Makan malam selama kegiatan berlangsung. Coffebreak sebanyak 2 kali selama kegiatan berlangsung. Antar jemput bandara bagi peserta group minimal 5 orang.

Artikel selanjutnya

EITENA GROUP adalah Pusat pelatihan yang yang bergerak dibidang riset, pengkajian bimbingan teknis, diklat, workshop, sertifikasi, pelatihan dan pendidikan non formal. Eitena Group didirikan sebagai pengembangan sumber daya manusia (SDM) terutama dibidang pendidikan. Baik bagi instansi pusat, pemerintah maupun swasta.

Kantor kami

Jam Buka

galeri

error: