Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur – Terpadu dan Strategis

Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur – Terpadu dan Strategis

Daftar Isi

Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur – Terpadu dan Strategis
Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur – Terpadu dan Strategis

 

Bimtek GIS Lanjutan 2026 sebagai Upaya Penguatan Kinerja dan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Perkembangan tuntutan kinerja pemerintahan daerah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan kompleksitas dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur. Aparatur sipil negara dihadapkan pada kebutuhan penyusunan program dan kegiatan yang semakin berbasis data, terukur, serta dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun administratif. Perubahan regulasi, standar akuntabilitas kinerja, serta ekspektasi publik terhadap kualitas layanan turut mendorong perlunya pendekatan kerja yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Dalam konteks tersebut, pemanfaatan data spasial menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung pengambilan keputusan pembangunan.

Kondisi tersebut sejalan dengan arah kebijakan pengembangan kompetensi aparatur yang menekankan pentingnya peningkatan kapasitas teknis dan analitis dalam mendukung kinerja organisasi perangkat daerah. Penguatan kemampuan perencanaan dan evaluasi program infrastruktur dipandang sebagai bagian dari upaya mendukung pencapaian sasaran pembangunan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pendekatan berbasis data dan analisis spasial juga selaras dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, khususnya dalam aspek transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas pelaksanaan kebijakan publik.

Tanpa dukungan kompetensi yang memadai, risiko ketidaktepatan perencanaan, lemahnya analisis kelayakan, serta rendahnya kualitas rekomendasi kebijakan menjadi semakin besar. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada efektivitas penggunaan anggaran, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas layanan publik dan keberlanjutan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan pemahaman dan keterampilan teknis aparatur dalam pemanfaatan sistem informasi geografis menjadi relevan sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja individu dan organisasi.

Tantangan Implementasi GIS Lanjutan dalam Feasibility Study Infrastruktur Tahun 2026

Tahun 2026 ditandai dengan meningkatnya kebutuhan akan perencanaan infrastruktur yang presisi dan berbasis analisis komprehensif. Di lapangan, masih ditemukan tantangan dalam integrasi data spasial lintas sektor, keterbatasan pemanfaatan fitur analisis lanjutan GIS, serta kesenjangan kompetensi aparatur dalam menerjemahkan data teknis menjadi rekomendasi kebijakan. Kondisi ini berpotensi menghambat penyusunan feasibility study infrastruktur yang akurat dan relevan dengan kebutuhan daerah.

Selain aspek teknis, tantangan juga muncul pada sisi sistem dan tata kelola, seperti keterbatasan standar kerja, kurangnya pemahaman metodologi analisis spasial, serta belum optimalnya pemanfaatan GIS dalam siklus perencanaan dan evaluasi program. Apabila tidak ditangani secara sistematis, hambatan tersebut dapat berdampak pada menurunnya kualitas kinerja organisasi, rendahnya efektivitas pengambilan keputusan, dan berkurangnya nilai manfaat pembangunan bagi masyarakat.

Peran Pelatihan GIS Lanjutan dalam Penguatan Kompetensi dan Kinerja Aparatur

Pelatihan GIS lanjutan memberikan kerangka pembelajaran yang terstruktur untuk meningkatkan kemampuan aparatur dalam mengelola, menganalisis, dan memanfaatkan data spasial secara lebih mendalam. Materi yang dibahas umumnya mencakup pemahaman konsep spasial lanjutan, teknik analisis untuk feasibility study, serta penerapan GIS dalam mendukung perencanaan dan evaluasi infrastruktur. Pendekatan ini membantu aparatur memahami hubungan antara data, kebijakan, dan kebutuhan pembangunan daerah.

Dalam jangka pendek, penguatan kompetensi tersebut berkontribusi pada peningkatan kualitas dokumen perencanaan dan analisis kelayakan. Sementara itu, dalam jangka menengah, aparatur diharapkan mampu mendorong peningkatan kinerja organisasi melalui perencanaan yang lebih tepat sasaran dan berbasis bukti. Pemanfaatan GIS sebagai alat bantu analisis juga mendukung transformasi digital pemerintahan, sebagaimana dipahami secara umum dalam konsep Sistem Informasi Geografis, yang menekankan integrasi data spasial dalam pengambilan keputusan.

Urgensi Penguatan Kompetensi Aparatur dalam Arah Kebijakan Tahun 2026

Arah kebijakan pembangunan tahun 2026 menunjukkan penekanan pada peningkatan kualitas perencanaan, efektivitas pelaksanaan program, dan penguatan akuntabilitas kinerja pemerintahan. Tren tata kelola pemerintahan mengarah pada pemanfaatan data dan teknologi sebagai dasar penyusunan kebijakan publik. Dalam konteks ini, kompetensi aparatur dalam mengolah dan menganalisis data spasial menjadi salah satu faktor penentu kesiapan organisasi perangkat daerah.

Penguatan kapasitas aparatur tidak hanya berimplikasi pada peningkatan profesionalisme ASN, tetapi juga pada kesiapan organisasi dalam merespons perubahan kebijakan dan tuntutan pembangunan. Dengan memahami konteks dan urgensi tersebut, instansi dapat menilai kebutuhan penguatan kompetensi secara lebih tepat dan berdampak sebagai dasar pengambilan keputusan pada tahap perencanaan berikutnya.

Landasan Regulasi dan Kebijakan Terkait

Pengembangan kompetensi aparatur sipil negara merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan sumber daya manusia sektor publik. Hal ini sejalan dengan kebijakan pengembangan kompetensi aparatur yang bertujuan meningkatkan profesionalisme, akuntabilitas, dan kinerja organisasi pemerintahan. Dalam kerangka tata kelola pemerintahan yang baik, peningkatan kapasitas aparatur dipandang sebagai prasyarat untuk memastikan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan publik berjalan secara efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Relevansi penguatan kompetensi teknis, termasuk dalam pemanfaatan GIS lanjutan, berkaitan langsung dengan tugas dan fungsi aparatur pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kinerja. Ketidaksiapan kompetensi berpotensi menimbulkan risiko dalam penyusunan analisis kelayakan, penetapan prioritas pembangunan, serta pengukuran capaian kinerja organisasi. Konteks ini dapat dipahami dalam kerangka umum Kebijakan Publik, yang menempatkan kapasitas aparatur sebagai faktor kunci keberhasilan implementasi kebijakan.

Berdasarkan kerangka regulasi dan arah kebijakan tersebut, tujuan pelatihan ini dirumuskan secara terstruktur untuk mendukung peningkatan kompetensi aparatur sesuai dengan kebutuhan organisasi dan tuntutan kinerja tahun 2026.



Tujuan Pelatihan GIS Lanjutan 2026

  1. Meningkatkan pemahaman aparatur terhadap konsep dan peran GIS lanjutan dalam penyusunan feasibility study infrastruktur yang berbasis data spasial dan analisis kebutuhan wilayah.
  2. Memperkuat kemampuan teknis peserta dalam mengelola dan menganalisis data spasial sebagai dasar perencanaan infrastruktur yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
    Contoh skenario: peserta mampu menyusun peta tematik untuk mendukung analisis kelayakan pembangunan jalan daerah.
  3. Mendorong pemanfaatan Bimtek GIS Lanjutan 2026 sebagai sarana peningkatan kualitas dokumen perencanaan dan studi kelayakan infrastruktur di lingkungan OPD teknis.
  4. Mengembangkan keterampilan peserta dalam mengintegrasikan data GIS dengan kebutuhan kebijakan publik dan prioritas pembangunan daerah.
  5. Membekali aparatur dengan kemampuan interpretasi hasil analisis spasial untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.
    Contoh skenario: hasil overlay peta dimanfaatkan untuk menentukan lokasi prioritas pembangunan fasilitas umum.
  6. Meningkatkan akurasi dan konsistensi analisis feasibility study infrastruktur melalui pemanfaatan fitur GIS lanjutan secara sistematis.
  7. Memperkuat peran aparatur dalam mendukung transformasi digital perencanaan infrastruktur melalui penerapan Bimtek GIS Lanjutan 2026 secara kontekstual.
  8. Mendorong keselarasan antara analisis teknis GIS dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik dalam siklus perencanaan dan evaluasi program.
  9. Membantu peserta memahami standar dan praktik umum pemanfaatan GIS dalam perencanaan infrastruktur sebagaimana dirujuk dalam Sistem Informasi Geografis.
    Contoh skenario: peserta menyesuaikan metode analisis spasial dengan kebutuhan evaluasi program tahunan.

Materi Pelatihan GIS Lanjutan untuk Feasibility Study Infrastruktur

1. Konsep Dasar GIS Lanjutan dan Aplikasinya

  • Pemutakhiran konsep GIS lanjutan dalam konteks perencanaan infrastruktur.
  • Metode: ceramah interaktif dan diskusi studi kasus.
  • Tools: QGIS / ArcGIS • Durasi: 90 menit.

2. Data Spasial dan Standar Pengelolaannya

  • Jenis dan sumber data spasial untuk feasibility study infrastruktur.
  • Praktik pengelolaan data sesuai kebutuhan OPD.
  • Tools: QGIS, Excel Template • Durasi: 90 menit.

3. Teknik Analisis Spasial Lanjutan

  • Overlay, buffering, dan analisis kedekatan.
  • Latihan analisis berbasis studi kasus daerah.
  • Tools: QGIS • Durasi: 120 menit.

4. GIS dalam Penyusunan Feasibility Study Infrastruktur

  • Integrasi GIS dengan tahapan feasibility study infrastruktur.
  • Simulasi penyusunan analisis kelayakan.
  • Tools: QGIS • Durasi: 120 menit.

5. Pemetaan Tematik untuk Perencanaan Infrastruktur

  • Penyusunan peta tematik sebagai dasar rekomendasi kebijakan.
  • Latihan pembuatan peta sektoral.
  • Tools: QGIS • Durasi: 90 menit.

6. Integrasi GIS dengan Data Non-Spasial

  • Penggabungan data spasial dan data statistik.
  • Metode analisis terpadu.
  • Tools: QGIS, Excel • Durasi: 90 menit.

7. Analisis Risiko dan Dampak Infrastruktur Berbasis GIS

  • Pemetaan risiko dan dampak lingkungan.
  • Studi kasus proyek infrastruktur daerah.
  • Tools: QGIS • Durasi: 90 menit.

8. Penyajian dan Visualisasi Hasil Analisis GIS

  • Teknik visualisasi data spasial untuk laporan.
  • Latihan penyusunan layout peta.
  • Tools: QGIS • Durasi: 60 menit.

9. GIS untuk Evaluasi Program Infrastruktur

  • Pemanfaatan GIS dalam evaluasi kinerja program.
  • Diskusi penerapan di OPD.
  • Tools: QGIS • Durasi: 60 menit.

10. Studi Kasus Implementasi GIS di Pemerintahan Daerah

  • Analisis praktik umum penerapan GIS.
  • Diskusi kelompok berbasis pengalaman lapangan.
  • Durasi: 60 menit.

11. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL)

  • Perumusan rencana penerapan GIS pascapelatihan.
  • Evaluasi pemahaman peserta.
  • Durasi: 60 menit.

Manfaat Pelatihan GIS Lanjutan

  • (Praktis) Peningkatan kemampuan analisis spasial aparatur.
    KPI: kualitas peta dan analisis yang dihasilkan dalam dokumen feasibility study.
  • (Praktis) Penyusunan dokumen perencanaan infrastruktur yang lebih terukur.
    KPI: kesesuaian dokumen dengan kebutuhan teknis OPD.
  • (Praktis) Efisiensi waktu dalam pengolahan dan analisis data spasial.
    KPI: durasi penyusunan analisis dibandingkan sebelum pelatihan.
  • (Strategis) Penguatan kualitas pengambilan keputusan berbasis data.
    KPI: pemanfaatan hasil analisis GIS dalam rekomendasi kebijakan.
  • (Strategis) Peningkatan kinerja organisasi perangkat daerah.
    KPI: keterkaitan hasil perencanaan dengan capaian program.
  • (Strategis) Dukungan terhadap transformasi digital perencanaan infrastruktur.
    KPI: tingkat pemanfaatan GIS dalam proses kerja OPD.
  • (Strategis) Penguatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan transparan.
    KPI: konsistensi penggunaan data spasial dalam siklus perencanaan dan evaluasi.
Baca Juga:  Bimtek Leadership dan Change Management 2026 – Penguatan Kepemimpinan Birokrasi Transformasional

Profil Narasumber dan Kompetensi Instruktur Pelatihan Bimtek GIS Lanjutan 2026

Praktisi Tata Kelola Pemerintahan dan Kebijakan Publik

Narasumber merupakan praktisi aktif yang berpengalaman dan bersertifikat, dengan fokus pada pendampingan instansi pemerintah dalam penerapan kebijakan publik dan penguatan tata kelola pembangunan berbasis data spasial yang relevan dengan Bimtek GIS Lanjutan 2026.

Konsultan Manajemen Kinerja dan Reformasi Birokrasi

Narasumber berpengalaman dalam penguatan manajemen kinerja sektor publik, serta pendampingan instansi dalam mengintegrasikan analisis GIS ke dalam dokumen perencanaan dan evaluasi program pembangunan infrastruktur secara akuntabel.

Analis Program, Monitoring, dan Evaluasi Kinerja Pemerintah

Narasumber merupakan praktisi bersertifikat yang berfokus pada pengembangan sistem monitoring dan evaluasi berbasis data, termasuk pemanfaatan GIS lanjutan untuk mendukung feasibility study infrastruktur dan pengambilan keputusan berbasis bukti.

Akademisi Terapan Bidang Administrasi Publik

Narasumber adalah akademisi terapan yang berpengalaman dalam pengembangan kompetensi aparatur, dengan keahlian pada integrasi teori kebijakan publik dan praktik GIS dalam perencanaan serta pengelolaan infrastruktur daerah.

Praktisi Digitalisasi Sistem Pemerintahan

Narasumber merupakan praktisi berpengalaman yang berfokus pada transformasi digital pemerintahan, termasuk pendampingan instansi dalam pemanfaatan sistem informasi geografis sebagai bagian dari modernisasi perencanaan pembangunan.

Praktisi Pengembangan SDM Sektor Publik

Narasumber berpengalaman dalam pengembangan SDM aparatur dan bersertifikat, dengan fokus pada perancangan dan implementasi program peningkatan kompetensi teknis ASN yang selaras dengan kebutuhan organisasi dan kebijakan nasional.

Referensi kompetensi dan sertifikasi profesi mengacu pada standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Seluruh narasumber merupakan praktisi dan instruktur bersertifikat BNSP yang berpengalaman mendampingi instansi pemerintah dan organisasi publik dalam program pengembangan kompetensi berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pembelajaran langsung dari narasumber bersertifikat dan berpengalaman yang memahami kebutuhan serta tantangan nyata organisasi sektor publik di tahun 2026.

Durasi dan Metode Pelaksanaan Pelatihan

Pelaksanaan Bimtek GIS Lanjutan 2026 dirancang selama dua hari kerja dengan struktur pembelajaran yang seimbang antara pemahaman konseptual dan praktik terapan.

Hari Pertama: Pukul 09.00–16.00 (6 JP) difokuskan pada pemutakhiran konsep GIS lanjutan, pengelolaan data spasial, dan teknik analisis untuk feasibility study infrastruktur.

Hari Kedua: Pukul 09.00–16.00 (6 JP) difokuskan pada praktik analisis spasial, penyusunan peta tematik, studi kasus, dan perumusan rencana tindak lanjut.

Total pembelajaran setara dengan 12 JP tatap muka. Apabila digunakan skema sertifikat 32 JP, konversi jam pembelajaran disesuaikan dengan standar internal pengembangan kompetensi aparatur, termasuk penugasan mandiri dan studi kasus terstruktur.

Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara tatap muka, daring, atau hybrid. Metode tatap muka mendukung interaksi langsung dan praktik intensif, metode daring memberikan fleksibilitas akses, sedangkan metode hybrid mengombinasikan keduanya untuk menjangkau peserta lintas wilayah.

Kebutuhan teknis peserta meliputi laptop minimal prosesor setara i5, RAM 8 GB, sistem operasi terbaru, aplikasi GIS (QGIS atau setara), serta koneksi internet stabil untuk akses data dan materi digital.

Contoh skenario hybrid: peserta di kelas mengikuti praktik analisis GIS secara langsung, sementara peserta daring mengikuti sesi yang sama melalui platform konferensi video dengan akses file dan panduan praktik yang disediakan secara simultan.

Output Pelatihan

Peserta yang mengikuti pelatihan ini diharapkan menghasilkan output nyata dan terukur sebagai berikut:

Mampu menyusun peta tematik dan analisis spasial yang mendukung feasibility study infrastruktur, dibuktikan melalui tugas praktik dan studi kasus.

Memiliki draft analisis kelayakan infrastruktur berbasis GIS yang relevan dengan konteks unit kerja masing-masing.

Mampu mengintegrasikan data spasial dan non-spasial dalam dokumen perencanaan dan evaluasi program pembangunan.

Memiliki rencana tindak lanjut (RTL) penerapan GIS lanjutan di lingkungan organisasi perangkat daerah.

Memperoleh sertifikat pelatihan sesuai ketentuan jam pelajaran yang berlaku sebagai bukti pengembangan kompetensi aparatur.

FAQ Pelatihan Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur

❓ Apa ruang lingkup utama Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur?

Jawaban: Pelatihan ini membahas penerapan GIS lanjutan untuk analisis kelayakan infrastruktur, termasuk analisis spasial, pemodelan wilayah, dan integrasi data teknis. Materi difokuskan pada kebutuhan perencanaan proyek di lingkungan Pemda dan unit teknis ASN.

❓ Bagaimana mekanisme pendaftaran peserta dari ASN atau aparatur pemerintah daerah?

Jawaban: Pendaftaran dilakukan melalui pengajuan resmi instansi atau pendaftaran individu ASN sesuai ketentuan penyelenggara. Data peserta diverifikasi untuk memastikan kesesuaian tugas jabatan dengan pelatihan ASN berbasis GIS.

❓ Apakah metode pelatihan diselenggarakan secara daring, luring, atau hybrid?

Jawaban: Bimtek GIS Lanjutan 2026 dapat diselenggarakan secara daring, luring, atau hybrid sesuai kebutuhan instansi. Metode dipilih untuk memastikan efektivitas praktik analisis spasial dan diskusi teknis.

❓ Siapa yang menjadi narasumber atau fasilitator dalam pelatihan ini?

Jawaban: Narasumber berasal dari praktisi GIS, akademisi, dan konsultan perencanaan infrastruktur yang berpengalaman. Fasilitator memahami konteks kerja ASN dan tata kelola perencanaan pemerintah daerah.

❓ Apa manfaat utama pelatihan ini bagi unit kerja atau perangkat daerah?

Jawaban: Pelatihan membantu unit kerja meningkatkan kualitas feasibility study berbasis data spasial. Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan teknis dan perencanaan infrastruktur yang lebih terukur.

❓ Apakah peserta mendapatkan sertifikat dan berapa Jam Pelajaran (JP) yang diakui?

Jawaban: Peserta yang memenuhi kehadiran dan evaluasi memperoleh sertifikat pelatihan. Pelatihan ini disusun setara dengan 16 Jam Pelajaran (JP) untuk pengembangan kompetensi aparatur pemerintah daerah.

❓ Bagaimana mekanisme evaluasi pembelajaran dalam Bimtek GIS Lanjutan 2026?

Jawaban: Evaluasi dilakukan melalui penilaian kehadiran, tugas praktik GIS, dan pemahaman materi. Mekanisme ini dirancang untuk mengukur penguasaan peserta terhadap analisis spasial feasibility study.

❓ Apakah tersedia pendampingan atau tindak lanjut setelah pelatihan selesai?

Jawaban: Beberapa skema pelatihan menyediakan pendampingan teknis terbatas pascapelatihan. Pendampingan difokuskan pada konsultasi penerapan GIS dalam dokumen perencanaan infrastruktur Pemda.

Kesimpulan

Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur menjadi relevan seiring meningkatnya tuntutan perencanaan berbasis data spasial dan akuntabilitas proyek pemerintah daerah. Penguasaan GIS lanjutan membantu ASN menyusun studi kelayakan yang lebih terukur, transparan, dan selaras dengan kebijakan pembangunan. Pelatihan ini mendukung peningkatan kinerja teknis serta pengembangan kompetensi aparatur secara berkelanjutan. Informasi jadwal dan mekanisme pendaftaran dapat diakses melalui halaman resmi penyelenggara.

Lokasi dan Kota Pelaksanaan Bimtek GIS Lanjutan 2026

Pelaksanaan Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur dirancang fleksibel dan menjangkau berbagai wilayah strategis di Indonesia, guna mendukung kebutuhan pelatihan ASN dan aparatur pemerintah daerah.

  • Jakarta – Fokus pada integrasi GIS dalam perencanaan nasional dan proyek infrastruktur perkotaan.
  • Bandung – Penguatan analisis spasial untuk wilayah metropolitan dan kawasan industri.
  • Yogyakarta – Pendalaman GIS untuk perencanaan berbasis riset dan kebijakan daerah.
  • Surabaya – Aplikasi GIS lanjutan pada feasibility study infrastruktur transportasi dan utilitas.
  • Malang – Pendekatan GIS untuk pengembangan wilayah dan infrastruktur berbasis kawasan.
  • Bali – Studi spasial untuk infrastruktur pariwisata dan lingkungan berkelanjutan.
  • Lombok – Pemanfaatan GIS dalam perencanaan kawasan strategis dan mitigasi risiko.
  • Batam – Analisis GIS untuk kawasan industri, pelabuhan, dan logistik.
  • Medan – Penerapan GIS pada pengembangan infrastruktur regional Sumatera.
  • Makassar – GIS untuk perencanaan infrastruktur kawasan timur Indonesia.

Inilah saat yang tepat bagi pimpinan dan pegawai, baik dari instansi pemerintah maupun swasta, untuk bergabung dalam program pelatihan strategis ini. Bersama, mari kita wujudkan sumber daya manusia yang unggul, profesional, dan berintegritas demi terciptanya pelayanan yang berkualitas dan terpercaya. Dan saatnya instansi Anda memperkuat kapabilitas dan tata kelola melalui peningkatan kompetensi yang terstruktur, aplikatif, dan sesuai kebutuhan.

Melalui Bimtek GIS Lanjutan 2026 untuk Feasibility Study Infrastruktur – Terpadu dan StrategisPelatihan Nasional menghadirkan solusi praktis bagi pemerintah daerah, OPD, BLUD, Mitra Swasta serta lembaga teknis lainnya untuk beradaptasi dengan era digital, akuntabilitas publik, dan tuntutan efisiensi layanan kesehatan. Setiap program dirancang berbasis kebutuhan nyata instansi, dilengkapi dengan modul komprehensif, studi kasus terkini, simulasi sistem, hingga pendampingan langsung oleh narasumber berpengalaman. Dengan pendekatan sistematis dan berbasis praktik terbaik, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap mengimplementasikan hasil pelatihan di lingkungan kerja masing-masing.

Dengan penuh hormat dan apresiasi, kami sangat menghargai waktu serta perhatian Bapak/Ibu dalam menyimak informasi pelatihan ini. Apabila Bapak/Ibu berkenan meluangkan waktu untuk meninjau materi lanjutan lainnya yang telah kami siapkan guna mendukung peningkatan kinerja, profesionalisme, dan akuntabilitas aparatur, silakan kunjungi tautan berikut:

👉Bimtek GIS Mitigasi Bencana dan Ketahanan Wilayah 2026 – Strategis dan Terpadu

Semoga program ini dapat menjadi bagian dari langkah nyata dalam membangun aparatur yang unggul, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan tata kelola kelembagaan di masa depan.

Picture of Ditulis oleh admin Eitena Group

Ditulis oleh admin Eitena Group

Eitena Group adalah Pusat pelatihan yang yang bergerak dibidang riset, pengkajian bimbingan teknis, diklat, workshop, sertifikasi, pelatihan dan pendidikan non formal. Eitena didirikan sebagai pengembangan sumber daya manusia (SDM) terutama dibidang pendidikan. Baik bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta & mahasiswa.

Tempat Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan

Jakarta, Bandung, Bogor Surabaya, Malang, Yogyakarta, Bali, Lombok, Medan, Palembang, Riau, Banda Aceh, Padang Pekanbaru, Manado, Makasar, Gorontalo,  Samarinda, Banjarmasin, Jayapura, Sorong dan lain sebagainya 

TANPA PENGINAPAN

Rp. 4.000.000

Mengikuti kelas tatap muka selama 2 hari. Modul materi, softcopy materi & Flashdisk 16GB. Bimtek kit, Tas eksklusif & Souvenir. Sertifikat pelatihan. Makan siang selama kegiatan berlangsung. Coffebreak sebanyak 2 kali selama kegiatan berlangsung. Antar jemput bandara bagi peserta group minimal 5 orang.

DENGAN PENGINAPAN(Twin Sharing)

Rp. 4.750.000

Mengikuti kelas tatap muka selama 2 hari. Modul materi, softcopy materi & Flashdisk 16GB. Bimtek kit, Tas eksklusif & Souvenir. Sertifikat pelatihan. Menginap 1 kamar untuk 2 orang, selama 4 hari 3 malam. Sarapan pagi, Makan siang dan Makan malam untuk 2 orang selama kegiatan berlangsung. Coffebreak sebanyak 2 kali selama kegiatan berlangsung. Antar jemput bandara bagi peserta group minimal 5 orang.

DENGAN PENGINAPAN(Suite Room)

Rp. 5.750.000

Mengikuti kelas tatap muka selama 2 hari. Modul materi, softcopy materi & Flashdisk 16GB. Bimtek kit, Tas eksklusif & Souvenir. Sertifikat pelatihan. Menginap 1 kamar untuk 1 orang, selama 4 hari 3 malam. Sarapan pagi, Makan siang dan Makan malam selama kegiatan berlangsung. Coffebreak sebanyak 2 kali selama kegiatan berlangsung. Antar jemput bandara bagi peserta group minimal 5 orang.

Artikel selanjutnya

EITENA GROUP adalah Pusat pelatihan yang yang bergerak dibidang riset, pengkajian bimbingan teknis, diklat, workshop, sertifikasi, pelatihan dan pendidikan non formal. Eitena Group didirikan sebagai pengembangan sumber daya manusia (SDM) terutama dibidang pendidikan. Baik bagi instansi pusat, pemerintah maupun swasta.

Kantor kami

Jam Buka

galeri

error: